Rabu, 23 Januari 2013

CERPEN



Cerpen pilu (cerita pendek tapi lucu)
Nasib Tak Berpihak Padaku
                  18 tahun sudah kujalani hidup. Selama ini aku percaya bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Apapun yang ibu mau, aku selalu nurut. Bahkan bukan hanya dengan ibu saja,dengan ayahku pun aku selalu nurut. Sebagai anak tunggal, aku harus bisa dibanggakan oleh ayah dan ibu.
                 Suatu hari aku mendengar suara hatiku yang membisikkan agar aku memakai jilbab. Selama ini aku memang tak pernah sekalipun memakai jilbab. Sebenarnya keinginanku untuk memakai jilbab sudah laama.Namun baru kali ini hatiku benar-benar terasa mantab. Segera aku pergi ke toko pakaian muslim untuk membeli jilbab dan beberapa pakaian muslimah dengan berbagai model. Lalu akupun pulnag ke rumah dengan hati yang berbung-bunga.
                Sesampainya di rumah, dengan bangga aku mengenakan jilbabku.namun apa yang terjadi tak sesuai dengan yang ku harapkan. Ketika aku keluar dari kamar,kedua orangtuaku langsung menjerit. Mereka murka dan memintaku agar segera melepaskan jilbab. Aku tentu merasa sangat terpukul dan tak ada harganya. Bayangkan…..ayah dan ibu yang sangat ku cintai malah menentangku mengenakan jilbab. Namun aku tetap teguh pada pendirianku, untuk terus memakai jilbab dan berpakaian muslimah.
            Entah apa yang ada di benak orangtuaku, mereka tetap tidak setuju dengan keputusanku. Mereka mengancam akan memutuskan hubungan jika aku tetap keras kepala. Aku tidak akan diakui sebagai anak selamanya jika aku tetap mengenakan jilbab.
            Hari-hariku terpenuhi dengan air mata. Tuhan….mengapa nasib tak berpihak padaku???, batinku merintih. Aku merasa jadi anak paling malang di dunia.
           Dengan teguhnya pendirianku, aku tidak putus asa. Aku meminta pak guru agar memberi pengerian pada ayah dan ibuku. Namun jangankan menesehati, untuk menemui kedua orangtuaku saja pak guru tidak berani. Kemudian aku mencoba berbicara dengan ustad pengurus masjid agar mau membantuku membujuk ayah dan ibu. Lagi-lagi hasilnya nol! Sang ustad pun menolak prmintaanku.
            Belum pernah rasanya aku dirundung duka seperti ini. Aku merasa sendiri di tengah keramaian dunia. Tak ada seorangpun yang mau mendukung keputusanku untuk mengenakan jilbab.
            Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Suatu pagi aku menemui orangtuaku dan berkata,”ayah, ibu, yang saya cintai. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada panjenengan, saya akan tetap memakai jilbab ini. Kalau ayah dan ibu tidak mengizinkan juga,saya akan bunuh diri!!!”.
Sejenak suasana menjadi hening. Ketegangan dalam kelurga sedang terjadi. Sambil menghela nafas panjang, ayah berkata lirih,,,,,”joko-joko….yen awakmu wedok ngunu sak karepmu arep nganggo rok, jilbab opo kebaya. Lha awakmu ki lanang lho lee,,,,mosok pengen nganggo jilbab???, ayah tetap tidak setuju.”(joko-joko….kalau kamu perempuan, terserah mau pakai rok,jilbab atau kebaya. Kamu kan laki-laki nak, masak pakai jilbab???)
Joko; ??????,,,,,,,,,,,,,,,,

Hhhmmm,,,,,,,,bacanya ciiiiusss eeaaa,,,,,,hehehe,,,,,,
                                                                                (muthrofin, SEMESTER 1B)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar