Cerpen pilu
(cerita pendek tapi lucu)
Nasib Tak Berpihak Padaku
18 tahun sudah kujalani hidup. Selama
ini aku percaya bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Apapun yang ibu
mau, aku selalu nurut. Bahkan bukan hanya dengan ibu saja,dengan ayahku pun aku
selalu nurut. Sebagai anak tunggal, aku harus bisa dibanggakan oleh ayah dan
ibu.
Suatu hari aku mendengar suara
hatiku yang membisikkan agar aku memakai jilbab. Selama ini aku memang tak
pernah sekalipun memakai jilbab. Sebenarnya keinginanku untuk memakai jilbab
sudah laama.Namun baru kali ini hatiku benar-benar terasa mantab. Segera aku
pergi ke toko pakaian muslim untuk membeli jilbab dan beberapa pakaian muslimah
dengan berbagai model. Lalu akupun pulnag ke rumah dengan hati yang
berbung-bunga.
Sesampainya di rumah, dengan
bangga aku mengenakan jilbabku.namun apa yang terjadi tak sesuai dengan yang ku
harapkan. Ketika aku keluar dari kamar,kedua orangtuaku langsung menjerit.
Mereka murka dan memintaku agar segera melepaskan jilbab. Aku tentu merasa
sangat terpukul dan tak ada harganya. Bayangkan…..ayah dan ibu yang sangat ku
cintai malah menentangku mengenakan jilbab. Namun aku tetap teguh pada
pendirianku, untuk terus memakai jilbab dan berpakaian muslimah.
Entah apa yang ada di benak
orangtuaku, mereka tetap tidak setuju dengan keputusanku. Mereka mengancam akan
memutuskan hubungan jika aku tetap keras kepala. Aku tidak akan diakui sebagai
anak selamanya jika aku tetap mengenakan jilbab.
Hari-hariku terpenuhi dengan air
mata. Tuhan….mengapa nasib tak berpihak padaku???, batinku merintih. Aku merasa
jadi anak paling malang di dunia.
Dengan teguhnya pendirianku, aku
tidak putus asa. Aku meminta pak guru agar memberi pengerian pada ayah dan
ibuku. Namun jangankan menesehati, untuk menemui kedua orangtuaku saja pak guru
tidak berani. Kemudian aku mencoba berbicara dengan ustad pengurus masjid agar
mau membantuku membujuk ayah dan ibu. Lagi-lagi hasilnya nol! Sang ustad pun
menolak prmintaanku.
Belum pernah rasanya aku dirundung
duka seperti ini. Aku merasa sendiri di tengah keramaian dunia. Tak ada
seorangpun yang mau mendukung keputusanku untuk mengenakan jilbab.
Akhirnya, aku memutuskan untuk
menggunakan cara terakhir. Suatu pagi aku menemui orangtuaku dan berkata,”ayah,
ibu, yang saya cintai. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada panjenengan, saya
akan tetap memakai jilbab ini. Kalau ayah dan ibu tidak mengizinkan juga,saya
akan bunuh diri!!!”.
Sejenak
suasana menjadi hening. Ketegangan dalam kelurga sedang terjadi. Sambil
menghela nafas panjang, ayah berkata lirih,,,,,”joko-joko….yen awakmu wedok
ngunu sak karepmu arep nganggo rok, jilbab opo kebaya. Lha awakmu ki lanang lho
lee,,,,mosok pengen nganggo jilbab???, ayah tetap tidak
setuju.”(joko-joko….kalau kamu perempuan, terserah mau pakai rok,jilbab atau
kebaya. Kamu kan laki-laki nak, masak pakai jilbab???)
Joko;
??????,,,,,,,,,,,,,,,,
Hhhmmm,,,,,,,,bacanya
ciiiiusss eeaaa,,,,,,hehehe,,,,,,
(muthrofin, SEMESTER 1B)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar