MEMANGNYA HIDUPKU,
HIDUP KALIAN????
Azimah Fauziyah
Semester III A
Surya terlihat
telah lelah setelah 12 jam membakar dirinya untuk menemani siang. Wajahnya
pucat pasi dikaki langit. Namun senja memperindah sinar kelelahan itu.
Cakrawala mengagungkan. Desiran angin bertugas menyampaikan pesan pada malaikat
agar segera mengomando malam dengan bintangnya untuk menggantikan posisi sang
surya.
Seperti halnya
tubuhku. Mata, kaki, tangan hingga fikiran semua melakukan aksi mogok kerja.
Tak lagi dihiraukan kemauan tuannya yang terus saja berkeinginan melanjutkan
pekerjaan.
Tema hari ini
memang sangat menggelitik naluriku. Perintah dari atasan untuk meliput sejumlah
fenomenologi anak jalanan membuatku binal dan semakin agresif mengupasnya lebih
dalam. Kuharapkan dapat menemui puncak kepuasan dengan menggoreskan gagasan dari
jawaban anak-anak yang kutemui tadi.
Uuhhh…
Persendianku tak lagi bisa diajak berdialektika. Tapi otakku memang pantang
menyerah. Ku biarkan semua anggota tubuhku bermanja-manja ria diatas kasur,
sengaja ku buka jendela agar angin malam sedikit masuk menerpa helai rambutku.
Dalam suasana yang romantis itu ku mulai mengajak ingatanku bersenggama untuk
mengupas perjalananku siang tadi.
Berawal ketika
pertama kali ku injakkan kaki di sebuah trotoar jalan jurusan kota. Ku
layangkan pandangan kesana kemari mencari bocah lusuh, kumal dan sedikit
berbau. Biasanya disalah satu tangan mereka tergenggam tutup botol yang
dirangkai pada sebuah bambu sepanjang kira-kira 25cm, sedangkan tangan yang
lain membawa kantong plastik bekas. Mereka adalah objekku dalam pembuatan
liputan ini. Liputan yang tak ku mengerti akan dijadikan apa oleh atasanku.
Untuk mengetuk pintu pemerintah kah? Agar mata mereka lebih terbuka untuk
menangani persoalan yang menurutku tak pernah ditemukan ujungnya? Atau hanya
sekedar liputan yang setelah dibaca kemudian dijadikan pembungkus kacang, atau
di jual kepada tukang loak dan hasilnya tetap menjadi sampah bekas yang tak
bernilai.
Dibawah lampu
lalu lintas, di simpang jalan perkotaan ku dapati 2 bocah duduk berdampingan.
Ku fikir mereka sedang menunggu lampu hijau berganti cahaya menjadi merah, dan
ternyata benar. Ketika lampu berganti cahaya merah, mereka memulai aksinya. Di
samping BMW metalik mewah, bocah yang usianya sekitar 11 tahun mengayunkan
tongkat tutup botol, sedang yang satunya berusia sekitar 6 tahun memegangi kantong
plastik sambil bernyanyi sebuah lagu yang….yaahh lumayan enak didengar bagiku.
“Memang jalan
hidup kita berbedaaaa… Aku hanyalah gadis desa biasa, namun salahkah bila aku
mencintaimu, menyayangimu. Laallalalalla “. Hanya itu lirik yang bisa kuhafal
darinya. Tak lama kemudian tutup kaca BMW terbuka dan terjulur tangan dengan
koin 500an. “Terima kasiihh…” ucap salah seorang diantara bocah itu.
Setelah lampu
kembali hijau, segera ku temui bocah lugu yang menghitung berapa koin yang
mereka dapat hari ini. “Permisi adik… Boleh kakak duduk disamping kalian?”
kuhaluskan suaraku supaya mereka tidak curiga dengan kehadiranku.
“Kamu siapa?”
tanya bocah yang besar. Bisa kutangkap dari cara dia memandangku, ada nada
ketakutan dari suaranya.
“Nama ku Azka,
kakak cuma ingin berbincang-bincang sebentar dengan adik. Boleh kakak minta
waktu adik sebentar?”. Aku berharap mereka mau terbuka dan memenuhi
keinginanku.
“Kakak bukan
orang yang akan memenjarakan kami kan?” tanya si kecil yang sedari tadi
berlindung dibelakang bocah besar.
“Tenang saja
dik, itu bukan pekerjaan kakak, lebih enaknya kita ngobrol di kedai penjual es
itu yuukk…”.
Wajah mereka
sedikit tenang dan alhamdulillah mereka berkenan mengikuti langkahku menuju
kedai es diseberang jalan. Ku pesan 3 mangkuk es dan mengambil beberapa camilan
roti basah. Kupersilahkan mereka makan dan meneguk es yang melambai-lambai
kesegarannya. Awalnya mereka takut, tapi setelah kuyakinkah bahwa aku bukan
termasuk manusia-manusia perazia, akhirnya dengan lahap dan dalam waktu yang
sekejap mangkuk mereka telah bersih tanpa sisa. Entah karena mereka lapar atau
jarang minum es. Paska melepaskan dahaga, aku mulai pembicaraan.
“Adik-adik
manis, nama kalian siapa?”
“Nama saya Sukma
kak, dan ini adik saya namanya Melati”.
“Rumah adik mana?
Adik tidak sekolah ya? Kok jam segini dijalan?”
“Kami tinggal di
dekat jembatan Kalianyar, sekolah apa kak?”
“Ya sekolah
seperti anak-anak yang lain, duduk dikelas, menerima pelajaran”.
“Sekolah itu
cuma buat mereka yang punya uang kak, bagi kami bisa makan nasi meskipun 2 hari
sekali aja itu sudah syukur”. Terang Sukma sembari menundukkan kepala.
“Maaf, kalau
boleh kakak tahu, adik tinggal sama siapa dirumah?”. Aku fikir Sukma bisa
berfikir dewasa, karena terkadang tanpa dimintapun dia berani menceritakan
perjalanan hidupnya bersama Melati.
Mereka terlahir
dari rahim seorang ibu yang semuanya tanpa ayah. Sukma masih terlalu kecil
untuk ku paksa menjawab latar belakang ibunya. Yang ia dan adiknya tahu, sekitar
2 tahun yang lalu ibunya meninggal berlumuran darah disekitar perut kebawah,
setelah membelikan makan untuk mereka. Mereka tidak mengerti apa-apa ketika
banyak orang membopong tubuh ibunya yang kemudian di letakkan ditanah dan
dikubur. Mereka hanya bisa menangis melihat ibunya yang tak lagi mau membuka
mata untuk mereka.
Rasanya air
mataku tak tahan berlama-lama dikelopak. Mereka memaksa keluar meski aku
mengeluarkan fatwa tegas dan melarangnya. Dasar air mata berkhianat!!
***
Langkah siang
yang semakin panas menambah kecepatan langkah kami menuju jembatan Kalianyar.
Keinginanku untuk tahu tempat tinggal Sukma dan Melati di ACC nya dengan senang
hati, dan kuputuskan untuk ikut berjalan kaki seperti kebiasaan mereka. Jarak
sekitar 15km dari depot es tadi cukup membuat kakiku tertatih mengejar derap langkah
Sukma dan Melati yang lincah ceria. Mungkin karena mereka telah terbiasa dengan
kehidupan tanpa pernah merasakan seperti apa menaiki kendaraan bermotor.
Perjalanan kami
terhenti disebuah gubuk reot terbuat dari kardus bekas beralaskan tikar daun tebu
dan beratapkan jerami padi. Tiangnya terbuat dari bambu yang terbelah menjadi
2. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam gubuk berukuran tidak lebih
dari 2x4m itu. Bagaimana jika malam tanpa penerangan, bagaimana pula mereka
bertahan dari guyuran hujan dan petir.
Dalam fikiran
yang serba terharu terbesit fikiran jelekku untuk menengadah kehidupan para
konglomerat dan pejabat. Alangkah indahnya tidur dalam spring bad empuk,
diruang ber AC, ditemani istri yang cantik, dan bermandikan rupiah. Terbayang
pidato pemerintah ketika mempromosikan dirinya agar terpilih menjadi salah satu
yang menempati kursi idaman kekuasaan. Teringat di Undang-Undang tertulis bahwa
“Fakir miskin dan
anak terlantar dipelihara oleh negara” yang rasanya hanya sebagai penghias ketatanegaraan atau sekedar
pemenuhan syarat. Bukan sesuatu yang harus terealisasi dan terimplementasi.
Aahhh terlalu jauh…!!
“Sukma,
sepertinya kamu begitu takut dengan razia, kenapa?”. Tanyaku penasaran ketika
pertama kali Sukma mengiraku salah satu satpol PP.
“Aku tidak mau
dipenjara kak”. Jawabnya lugu.
“Loh… mereka
tidak memenjarakan dik Sukma sama dik Melati, tapi adik akan ditempatkan pada
suatu tempat yang banyak temannya, adik bisa belajar seperti anak sekolah, dan
adik bisa makan tanpa harus mengamen dijalanan”. Aku mencoba mengurai alasan
kenapa Sukma dan adiknya menganggap bahwa panti asuhan tak ada bedanya dengan
penjara.
Sebuah
perspektif mengagumkan kutangkap dari perkataan Sukma. Gadis sebelas tahun itu
menuturkan alasan yang membuat ku berkesimpulan pada kesia-siaan pemerintah
mendirikan panti asuhan atau lembaga sosial lainnya sebagai tempat pembibingan
anak jalanan. Yang menjadi ironi adalah cara penangkapan anak terlantar tidak
beda dengan pengerukan sampah dipinggiran kota. Seakan-akan mereka adalah
kotoran yang mengganggu pemandangan yang harus dipungut, bukan seperti manusia
yang suharusnya diperlakukan dan mendapat bimbingan.
Sebagian memang
ada yang lari dari kejaran petugas, itu karena mereka berpendapat lembaga
sosial yang akan mereka tempati adalah neraka. Hmmm lelah memikirkan teka-teki
yang lebih tepat disebut labirin. Bagiku Sukma dan adiknya adalah tokoh yang
mampu mempertahankan pendiriannya. Ia menjalani hidup penuh kemandirian. Meski terlahir
dari salah seorang pelacur. Dan bangku sekolah masih seperti mimpi untuk bisa
mereka injak.
Tak terasa
voltase mataku telah redup. Pukul 06.00 besok aku harus menyetorkan laporan
tentang angan-angan labirin ini. Semoga bayangan Sukma dan Melati tidak turut
lenyap bersama mimpi. Baiklah, ayook semua anggota tubuh, ku beri waktu 4 jam
untuk memanjakan kalian. Selamat tidur…..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar