Rabu, 23 Januari 2013

Cerpen



MEMANGNYA HIDUPKU, HIDUP KALIAN????
Azimah Fauziyah
Semester III A

Surya terlihat telah lelah setelah 12 jam membakar dirinya untuk menemani siang. Wajahnya pucat pasi dikaki langit. Namun senja memperindah sinar kelelahan itu. Cakrawala mengagungkan. Desiran angin bertugas menyampaikan pesan pada malaikat agar segera mengomando malam dengan bintangnya untuk menggantikan posisi sang surya.
Seperti halnya tubuhku. Mata, kaki, tangan hingga fikiran semua melakukan aksi mogok kerja. Tak lagi dihiraukan kemauan tuannya yang terus saja berkeinginan melanjutkan pekerjaan.
Tema hari ini memang sangat menggelitik naluriku. Perintah dari atasan untuk meliput sejumlah fenomenologi anak jalanan membuatku binal dan semakin agresif mengupasnya lebih dalam. Kuharapkan dapat menemui puncak kepuasan dengan menggoreskan gagasan dari jawaban anak-anak yang kutemui tadi.
Uuhhh… Persendianku tak lagi bisa diajak berdialektika. Tapi otakku memang pantang menyerah. Ku biarkan semua anggota tubuhku bermanja-manja ria diatas kasur, sengaja ku buka jendela agar angin malam sedikit masuk menerpa helai rambutku. Dalam suasana yang romantis itu ku mulai mengajak ingatanku bersenggama untuk mengupas perjalananku siang tadi.
Berawal ketika pertama kali ku injakkan kaki di sebuah trotoar jalan jurusan kota. Ku layangkan pandangan kesana kemari mencari bocah lusuh, kumal dan sedikit berbau. Biasanya disalah satu tangan mereka tergenggam tutup botol yang dirangkai pada sebuah bambu sepanjang kira-kira 25cm, sedangkan tangan yang lain membawa kantong plastik bekas. Mereka adalah objekku dalam pembuatan liputan ini. Liputan yang tak ku mengerti akan dijadikan apa oleh atasanku. Untuk mengetuk pintu pemerintah kah? Agar mata mereka lebih terbuka untuk menangani persoalan yang menurutku tak pernah ditemukan ujungnya? Atau hanya sekedar liputan yang setelah dibaca kemudian dijadikan pembungkus kacang, atau di jual kepada tukang loak dan hasilnya tetap menjadi sampah bekas yang tak bernilai.
Dibawah lampu lalu lintas, di simpang jalan perkotaan ku dapati 2 bocah duduk berdampingan. Ku fikir mereka sedang menunggu lampu hijau berganti cahaya menjadi merah, dan ternyata benar. Ketika lampu berganti cahaya merah, mereka memulai aksinya. Di samping BMW metalik mewah, bocah yang usianya sekitar 11 tahun mengayunkan tongkat tutup botol, sedang yang satunya berusia sekitar 6 tahun memegangi kantong plastik sambil bernyanyi sebuah lagu yang….yaahh lumayan enak didengar bagiku.
“Memang jalan hidup kita berbedaaaa… Aku hanyalah gadis desa biasa, namun salahkah bila aku mencintaimu, menyayangimu. Laallalalalla “. Hanya itu lirik yang bisa kuhafal darinya. Tak lama kemudian tutup kaca BMW terbuka dan terjulur tangan dengan koin 500an. “Terima kasiihh…” ucap salah seorang diantara bocah itu.
Setelah lampu kembali hijau, segera ku temui bocah lugu yang menghitung berapa koin yang mereka dapat hari ini. “Permisi adik… Boleh kakak duduk disamping kalian?” kuhaluskan suaraku supaya mereka tidak curiga dengan kehadiranku.
“Kamu siapa?” tanya bocah yang besar. Bisa kutangkap dari cara dia memandangku, ada nada ketakutan dari suaranya.
“Nama ku Azka, kakak cuma ingin berbincang-bincang sebentar dengan adik. Boleh kakak minta waktu adik sebentar?”. Aku berharap mereka mau terbuka dan memenuhi keinginanku.
“Kakak bukan orang yang akan memenjarakan kami kan?” tanya si kecil yang sedari tadi berlindung dibelakang bocah besar.
“Tenang saja dik, itu bukan pekerjaan kakak, lebih enaknya kita ngobrol di kedai penjual es itu yuukk…”.
Wajah mereka sedikit tenang dan alhamdulillah mereka berkenan mengikuti langkahku menuju kedai es diseberang jalan. Ku pesan 3 mangkuk es dan mengambil beberapa camilan roti basah. Kupersilahkan mereka makan dan meneguk es yang melambai-lambai kesegarannya. Awalnya mereka takut, tapi setelah kuyakinkah bahwa aku bukan termasuk manusia-manusia perazia, akhirnya dengan lahap dan dalam waktu yang sekejap mangkuk mereka telah bersih tanpa sisa. Entah karena mereka lapar atau jarang minum es. Paska melepaskan dahaga, aku mulai pembicaraan.
“Adik-adik manis, nama kalian siapa?”
“Nama saya Sukma kak, dan ini adik saya namanya Melati”.
“Rumah adik mana? Adik tidak sekolah ya? Kok jam segini dijalan?”
“Kami tinggal di dekat jembatan Kalianyar, sekolah apa kak?”
“Ya sekolah seperti anak-anak yang lain, duduk dikelas, menerima pelajaran”.
“Sekolah itu cuma buat mereka yang punya uang kak, bagi kami bisa makan nasi meskipun 2 hari sekali aja itu sudah syukur”. Terang Sukma sembari menundukkan kepala.
“Maaf, kalau boleh kakak tahu, adik tinggal sama siapa dirumah?”. Aku fikir Sukma bisa berfikir dewasa, karena terkadang tanpa dimintapun dia berani menceritakan perjalanan hidupnya bersama Melati.
Mereka terlahir dari rahim seorang ibu yang semuanya tanpa ayah. Sukma masih terlalu kecil untuk ku paksa menjawab latar belakang ibunya. Yang ia dan adiknya tahu, sekitar 2 tahun yang lalu ibunya meninggal berlumuran darah disekitar perut kebawah, setelah membelikan makan untuk mereka. Mereka tidak mengerti apa-apa ketika banyak orang membopong tubuh ibunya yang kemudian di letakkan ditanah dan dikubur. Mereka hanya bisa menangis melihat ibunya yang tak lagi mau membuka mata untuk mereka.
Rasanya air mataku tak tahan berlama-lama dikelopak. Mereka memaksa keluar meski aku mengeluarkan fatwa tegas dan melarangnya. Dasar air mata berkhianat!!

***

Langkah siang yang semakin panas menambah kecepatan langkah kami menuju jembatan Kalianyar. Keinginanku untuk tahu tempat tinggal Sukma dan Melati di ACC nya dengan senang hati, dan kuputuskan untuk ikut berjalan kaki seperti kebiasaan mereka. Jarak sekitar 15km dari depot es tadi cukup membuat kakiku tertatih mengejar derap langkah Sukma dan Melati yang lincah ceria. Mungkin karena mereka telah terbiasa dengan kehidupan tanpa pernah merasakan seperti apa menaiki kendaraan bermotor.
Perjalanan kami terhenti disebuah gubuk reot terbuat dari kardus bekas beralaskan tikar daun tebu dan beratapkan jerami padi. Tiangnya terbuat dari bambu yang terbelah menjadi 2. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam gubuk berukuran tidak lebih dari 2x4m itu. Bagaimana jika malam tanpa penerangan, bagaimana pula mereka bertahan dari guyuran hujan dan petir.
Dalam fikiran yang serba terharu terbesit fikiran jelekku untuk menengadah kehidupan para konglomerat dan pejabat. Alangkah indahnya tidur dalam spring bad empuk, diruang ber AC, ditemani istri yang cantik, dan bermandikan rupiah. Terbayang pidato pemerintah ketika mempromosikan dirinya agar terpilih menjadi salah satu yang menempati kursi idaman kekuasaan. Teringat di Undang-Undang tertulis bahwa “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” yang rasanya hanya sebagai penghias ketatanegaraan atau sekedar pemenuhan syarat. Bukan sesuatu yang harus terealisasi dan terimplementasi. Aahhh terlalu jauh…!!
“Sukma, sepertinya kamu begitu takut dengan razia, kenapa?”. Tanyaku penasaran ketika pertama kali Sukma mengiraku salah satu satpol PP.
“Aku tidak mau dipenjara kak”. Jawabnya lugu.
“Loh… mereka tidak memenjarakan dik Sukma sama dik Melati, tapi adik akan ditempatkan pada suatu tempat yang banyak temannya, adik bisa belajar seperti anak sekolah, dan adik bisa makan tanpa harus mengamen dijalanan”. Aku mencoba mengurai alasan kenapa Sukma dan adiknya menganggap bahwa panti asuhan tak ada bedanya dengan penjara.
Sebuah perspektif mengagumkan kutangkap dari perkataan Sukma. Gadis sebelas tahun itu menuturkan alasan yang membuat ku berkesimpulan pada kesia-siaan pemerintah mendirikan panti asuhan atau lembaga sosial lainnya sebagai tempat pembibingan anak jalanan. Yang menjadi ironi adalah cara penangkapan anak terlantar tidak beda dengan pengerukan sampah dipinggiran kota. Seakan-akan mereka adalah kotoran yang mengganggu pemandangan yang harus dipungut, bukan seperti manusia yang suharusnya diperlakukan dan mendapat bimbingan.
Sebagian memang ada yang lari dari kejaran petugas, itu karena mereka berpendapat lembaga sosial yang akan mereka tempati adalah neraka. Hmmm lelah memikirkan teka-teki yang lebih tepat disebut labirin. Bagiku Sukma dan adiknya adalah tokoh yang mampu mempertahankan pendiriannya. Ia menjalani hidup penuh kemandirian. Meski terlahir dari salah seorang pelacur. Dan bangku sekolah masih seperti mimpi untuk bisa mereka injak.
Tak terasa voltase mataku telah redup. Pukul 06.00 besok aku harus menyetorkan laporan tentang angan-angan labirin ini. Semoga bayangan Sukma dan Melati tidak turut lenyap bersama mimpi. Baiklah, ayook semua anggota tubuh, ku beri waktu 4 jam untuk memanjakan kalian. Selamat tidur…..!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar